Jumat, 16 Desember 2016

Basis Aceh

            Beberapa hal mendorong saya untuk kembali bercerita melalui tulisan saya. Sudah lama saya tidak aktif menulis, namun seperti ada yang berkata “sekarang saatnya”.

            Saya masih ingat pertama kali menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Saat itu saya tidak tahu apa – apa mengenai kampus ini. Sebagian teman – teman saya memiliki saudara atau orangtua yang kuliah atau menjadi dosen, bahkan alumni dari  kampus ini. Namun, tidak dengan saya.

            Sebelum saya masuk kampus ini atau resmi menjadi mahasiswa, saya sudah sering berselancar di media sosial untuk mengetahui kehidupan di kampus ini. Kemudian, saya melihat sebuah organisasi yang dinamakan Asian Medical Students’ Association Christian University of Indonesia atau lebih sering disingkat menjadi AMSA-UKI.

            Lalu, saya memutuskan untuk bergabung.

            Hingga sampailah saya mengikuti salah satu acara nasional atau lebih sering disebut dengan National Event yang dimiliki oleh AMSA Indonesia, yaitu National Action Even (NAE) yang tahun ini diadakan oleh AMSA-UNSYIAH di Banda Aceh. Untuk pertama kalinya saya mengikuti National Event bukan sebagai delegasi biasa, melainkan sebagai peserta kompetisi debat. Banyak pengalaman yang saya dapatkan, yang mungkin tidak pernah akan saya lupakan.


            Saya selalu bersyukur bisa bergabung dengan organisasi ini, hingga saya menulis tulisan ini.




























































"You call it organization, We call it family"

Jumat, 12 Agustus 2016

Kamp Medis Nasional Mahasiswa XX


Sebelum aku memutuskan untuk memilih sekolah kedokteran, ada beberapa pilihan profesi yang sempat aku pikirkan. Menjadi pendeta atau penulis. Pendeta, karena aku ingin melayani dan mempersembahkan kehidupanku untuk Tuhan, tapi aku sadar bahwa profesi seorang pendeta sangat terbatas. Penulis, aku saat itu ingin memilih fakultas sastra. Tuhan memberikanku bakat dalam menulis. Lagi – lagi ada batasan yang membatasi ruang lingkupku nanti jika menjadi seorang penulis.

            Berbagai macam pertimbangan dan diskusi dengan orang – orang terdekat, aku memantapkan minatku untuk menjadi seorang Dokter, dengan alasan aku bisa memberitakan injil kepada orang banyak di daerah terpelosok. Semua orang membutuhkan tenaga medis. Aku sendiri tidak tahu mengapa alasan seperti itu terlintas dalam benakku.

            Aku masuk ke dalam dunia perkuliahan. Terlibat dalam organisasi dan pelayanan. Sesuatu yang luar biasa terjadi. Di masa perkuliahan aku mengenal apa itu “injil”. Bukan sekadar arti kata, melainkan maknannya. Masih tergambar jelas di benakku. Ketika ibadah natal saat aku masih memakai almamater yang melambangkan statusku sebagai mahasiswa baru, Tuhan memakai Pak Tadius Gunadi, selaku staff perkantas untuk menyampaikan injil. Sungguh bersyukur karena akhirnya aku boleh dimenangkan!

            Waktu terus berlalu. Berbagai macam bentuk pelayanan dan kepanitiaan sana sini telah kulalui. Visi yang tertanam dalam ruang terdalam hatiku dalam menjadi seorang Dokter adalah untuk memberitakan injil di daerah terpencil. Cuma sebatas itu, tanpa pemahaman serta metode yang efektif lebih lanjut.

             Awal - awal aku memasuki dunia perkuliahan, aku tidak pernah menganggap PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) adalah sesuatu yang penting. Waktu luangku lebih banyak difokuskan untuk organisasi dan sebagainya. Aku keliru rupanya. PMK lebih penting dari itu semua. Untuk menciptakan alumni yang profesional dan berintegritas bukan dari seminar, namun dari pemuridan, di mana peran PMK sangatlah penting.

            Sekali lagi, Tuhan “menemui”-ku dalam dunia pelayanan mahasiswa, tepatnya dalam pelayanan medis. Kamp Medis Nasional Mahasiswa ke – 20. Sungguh bersyukur aku boleh berbagian dalam pesta rohani semacam ini. Sangat diberkati. Tidak ada rasa penyesalan dalam hatiku, walau ada harga yang harus dibayar dalam mengikuti kegiatan ini. Bahkan, sampai kesudahan acara ini, masih ada gema yang kunikmati.

            Ketika akan meninggalkan Yogyakarta, ada rasa sedih dan kerinduan pada seluruh peserta. Ini adalah salah satu momen terbaik dalam hidupku. Lebih baik dibandingkan aktif di organisasi.


            Dari kumpulan orang Farisi…